Searching...

Raih kebahagiaan hakiki dengan Sucikan diri dan benahi hati

Senin, Februari 24, 2014
Sejak dahulu kala semua orang yang berakal, berpendidikan dan berbudaya mendambakan pensucian jiwa dan perbaikan hati. Mereka menempuh berbagai cara, menerapkan metode-metode dan meniti banyak jalan untuk menggapai cita-cita tersebut. Namun ada diantara mereka yang justru menyiksa diri sendiri dengan melakukan perkara-perkara yang melelahkan dan menyakitkan karena tidak sesuai syariat. Akibatnya, perbuatan-perbuatan ini menyeret dan menenggelamkan mereka ke dalam syahwat, kelezatan dunia, menzalimi jiwa, dan menyibukkan diri dengan metode-metode, pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan, dan tidak sejalan dengan akal sehat.

Namun, orang yang bisa bersikap adil, dan bisa menilai perkara-perkara dengan bijak, dia tidak akan segan untuk menyatakan bahwa kebahagiaan hakiki yang menjadikan kehidupan semakin bermakna, yang bisa menenangkan hati, dan mensucikan diri telah dijelaskan cara dan metodenya oleh al-Qur’an dan Sunnah dengan sangat jelas, terperinci namun tetap simpel dan padat serta dijamin mampu menghantarkan kepada kebahagiaan yang hakiki.

Allâh Azza wa Jalla mengutus para rasul dan mewahyukan kitab-kitab untuk menunjukkan kepada manusia bagaimana metode menyucikan jiwa dan memperbaiki hati. Realisasi hsl ini adalah dengan mentauhidkan Allâh, yaitu beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan ini merupakan hikmah penciptaan makhluk, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” [adz-Dzâriyât /51:56]

Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah telah dijelaskan bagaimana cara menyucikan jiwa yang menjadi penentu, apakah seseorang akan hidup bahagia di dunia dan akhirat ataukah sebaliknya ? Dengan jelas dan gamblang, al-Qur’an menjelaskan bahwa pondasi, ruh, sandaran, dan poros pensucian jiwa yang tidak lain adalah mentauhidkan Allâh.

Tauhid mempunyai pengaruh yang sangat signifikan dalam menyucikan jiwa dan membenahi hati seorang Muslim. Tauhid mampu menyatukan tujuan dan maksud, serta menyelaraskan antara ilmu dengan amal. Sehingga pemahaman, akidah, amalan, kehendak, kecenderungan, dan kegiatan seorang Muslim berjalan menuju satu arah dan serasi, tidak ada kontradiksi. Dengan demikian, beban kehidupan dapat hilang dari pundak seseorang, akibat dari kontradiksi antara tujuan dan perbuatan.

Diantara yang bisa menyucikan jiwa dan memperbaiki hati adalah perbaharuan terhadap keimanan secara berkesinambungan.

Iman itu perlu diperbarui karena dia dapat lusuh seperti pakaian. Oleh karena itu, para sahabat Rasûlullâh mengandeng tangan saudaranya yang lain seraya mengatakan, “Marilah kita memperbarui iman kita meskipun sesaat” kemudian mereka duduk di suatu majlis, lalu berdzikir kepada Allâh.

Dzikrullâh, membaca al-Qur’an, melakukan ketaatan adalah cara ampuh untuk memperbarui iman yang bersemayam dalam jiwa seorang Mukmin. Karena iman itu bisa bertambah dengan sebab perbuatan taat dan berkurang dengan sebab kemaksiatan. Dalam usaha meningkatkan keimanan seorang Mukmin mestinya benar-benar bersandar kepada Allâh sehingga akan menghasil buah yang penuh barakah yaitu kesucian jiwa, sebagaimana di sabdakan oleh Nabi yang mulia dalam do’anya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

Ya Allâh ! Berikanlah ketaqwaan kepada jiwaku dan sucikanlah jiwaku, sesungguh Engkau Pembersih jiwa terbaik

Termasuk jalan untuk mensucikan jiwa dan memperbaiki hati adalah selalu mengingat-ingat nikmat-nikmat yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada kita. Nikmat-nikmat itu terlampau banyak sehingga terhitung. Allâh Azza wa Jalla berfirman.

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

"Dan jika engkau menghitung nikmat Allâh kamu tidak akan mampu menghitungnya" [an-Nahl/16:18]

Orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmat ini akan menyadari ketergantungannya kepada Allâh Azza wa Jalla , sehingga dia akan memfokuskan diri dalam beribadah dengan khusyu'. Bagaimana tidak ?! Semua yang dia rasakan saat ini seperti hidup, sehat, harta, anak, terhormat dan lain-lainnya adalah pemberian dari Allâh Azza wa Jalla . Allâh memberikannya dengan cara dan dalam waktu yang Allâh Azza wa Jalla pilih, bisa saja pemberiaan ini diambil setiap saat, tanpa ada yang mampu menghalangi-Nya.

Kesadaran akan pemberian Allâh Azza wa Jalla yang melimpah ini bisa mendorong seorang hamba untuk menyadari kelemahan dirinya dan menyadari betapa ia sangat butuh kepada Rabbnya dalam semua urusan. Namun, mengingat nikmat mesti diiringi dengan amalan yang diridhai dan dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla sehingga bernilai pada hari Kiamat. Realisasinya yaitu dengan mengerjakan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan kemungkaran-kemungkaran, dengan tetap mengutamakan amalan-amalan fardhu, karena amalan fardhu merupakan amalan yang paling bisa mendekatkan seorang hamba kepada Allâh Azza wa Jalla.

Diantara yang dapat menyucikan jiwa adalah melakukan amalan-amalan hati.

Hati ibarat raja bagi anggota badan, jika hati itu baik maka semua anggota badan akan baik dan apabila hati rusak maka semua anggota badan ikut rusak.

Termasuk perbuatan hati yang paling penting dan paling agung adalah niat dan tujuan seseorang dalam beramal. Niat ini memiliki peran penting dalam masalah diterima atau tertolaknya amal seorang Muslim. Oleh karena itu hendaknya kita senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla agar kita dijadikan termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal.

Sarana berikutnya yang bisa menyucikan jiwa dan membenahi hati seorang Muslim adalah bertaubat dari semua dosa. Karena tidak seorang manusiapun yang luput dari dosa. Ibnu Qayyim t mengatakan bahwa taubat adalah ibadah yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allâh. Sungguh Allâh mencintai orang-orang yang bertaubat. Seandainya taubat itu bukan amalan yang paling dicintai oleh Allâh, tentu Allâh tidak menguji manusia yang paling mulia dengan dosa. (Namun) karena Allâh mencintai taubat hamba-Nya maka Allâh menguji hamba tersebut dengan dosa.

Taubat mempunyai kedudukan yang tidak dimiliki ketaatan-ketaatan lain. Oleh karena itu Allâh sangat senang dengan taubat hamba-Nya. Sebagaimana digambarkan oleh Rasûlullâh n seperti senangnya orang saat menemukan kembali hewan tunggangannya yang hilang padahal berisi semua bekal perjalanannya, ketika dia sedang safar di tanah yang sangat gersang sekali.

Kegembiraan Allâh Azza wa Jalla tentu memiliki pengaruh besar pada hati orang yang bertaubat. Orang yang bertaubat yang menyadari ini akan merasakan kegembiraan yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Ini termasuk rahasia kenapa seorang hamba ditakdirkan berdosa lalu bertaubat. Karena saat bertaubat, seseorang akan menyadari dengan hati dan mengakui dengan jujur betapa hina dan rendah dirinya dihadapan Allâh Azza wa Jalla . Kesadaran dan pengakuan seperti lebih dicintai oleh Allâh daripada perbuatan-perbuatan dzahir dalam jumlah yang banyak. Inilah inti penghambaan seseorang kepada Allâh Azza wa Jalla

Memang semua ibadah yang dilakukan seseorang akan memunculkan rasa tunduk dan patuh kepada Allâh, namun ketundukan yang muncul dari taubat lebih kuat daripada yang lainnya. Perbuatan dosa yang dilakukan seseorang lalu disesali dan bertaubat darinya akan mendorong dia untuk melakukan berbagai perbuatan taat, baik yang bersifat fisik maupun bersifat amalan hati seperti muncul rasa takut kepada Allâh Azza wa Jalla , malu kepada Allâh Azza wa Jalla, bersimpuh dihadapan Rabbnya mengakui, menangisi kesalahannya serta sangat berharap magfirah dari Allâh Azza wa Jalla . Ini jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan perbuatan taat namun menimbulkan rasa ujub pada diri pelakunya.

Taubat yang dilakukan oleh seseorang wajib memenuhi syarat-syaratnya yaitu bertekad untuk berhenti dari perbuatan dosanya dan bertekad untuk tidak akan mengulanginya, menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan, dan apabilaa dosa itu berhubungan dengan manusia maka harus ada syarat keempat, yaitu meminta maaf kepadanya. Disamping hal-hal di atas, taubat seharusnya juga mendorong seseorang untuk tetap istiqamah melakukan berbagai perbuatan taat. Karena inti taubat itu adalah kembali kepada Allâh dengan cara mengerjakan apa yang Allâh cintai dan meninggalkan apa yang Allâh benci atau haramkan.

Taubat adalah kembali dari hal-hal yang dibenci menuju hal-hal yang dicintai. Jadi menuju hal-hal yang dicintai adalah bagian dari taubat, begitu juga meninggalkan hal-hal yang dibenci adalah bagian dari taubat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allâh agar kalian beruntung. [an-Nûr/24:31]

Semua yang bertaubat adalah orang yang beruntung, namun seseorang tidak dikatakan beruntung kecuali jika dia menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Allâh berfirman :

وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan barangsiapa yang belum bertaubat, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.” [al-Hujurat/49:11]

Orang yang meninggalkan perintah adalah orang zhalim, sebagaimana orang yang mengerjakan larangan juga zhalim. Seseorang akan disebut tidak zhalim jika dia menjalankan kedua-duanya yaitu menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Itulah beberapa hal yang bisa membersihkan dan menyucikan jiwa seorang Mukmin. Dan masih banyak lagi sarana-sarana yang bisa dilakukan oleh seseorang untuk menggapai kesucian jiwa. Intinya semua yang perintah dan larangan dari Allâh dan Rasul-Nya menjadi sarana untuk membersihkan diri manusia dari noda dosa.

Akhirnya, jika kita hendak menjaga dan ingin menggapai kebersihan jiwa maka hendaklah kita senantiasa mengambil metode dan sarananya dari Kitabullah dan Sunnah Nabi, dengan tujuan mencari ridha Allâh, dan meniru jejak-jejak orang-orang yang dipilih oleh Allâh.

Allâh Azza wa Jalla berfirman.

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ

Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allâh dan mereka itulah orang-orang yang berakal.” [az-Zumar/39:18]

(Diangkat oleh Adi M Abu Aisyah dari khutbah yang disampaikan Dr. Usamah Khayyat di Masjidil Haram, pada tanggal 7 Sya'ban 1432 H, dengan tema “Tazkiyatun Nufûs Wa Islâhul Qulûb” dengan sedikit perubahan dan ringkasan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196] 

0 komentar:

Poskan Komentar